SD

Sejak kecil kita mengetahui bahwa untuk menjadi pintar kita harus masuk ke lembaga pendidikan yang disini kita sebut sekolah. Trend saat ini sekolah sudah dibebankan kepada anak sejak dia masih kecil. Usia 2 tahun sudah ada PAUD. Kemudian dilanjutkan dengan jenjang selanjutnya TK, SD, SMP, SMA, Sampai ke perguruan tinggi. Sudah berapa lama kita mengikuti jenjang lembaga pendidikan. Output apa saja yang didapat dalam mengikuti jenjang itu?
Sekolah menjadi tempat sarana belajar banyak hal. Bukan sekedar mengetahui 2 x 2 = 4. Menghafalkan rumus dan mengerjakan soal untuk mendapatkan nilai.  Sekolah adalah tempat abak belajar sosial. Mengetahui konsep baik dan buruk.

Dewasa ini sekolah dasar tidak lagi menjadi tempat yang asyik untuk belajar dan bermain. Siswa-siswa dibebankan mata pelajaran dan pengetahuan umum yang ekstra sulit. Ini berbuah manis terhadap lembaga-lembaga belajar prifat untuk naik daun dikarenakan siswa tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan orang tua mengalami kesulitan dalam menemani proses belajar anak. Kesibukan mencari nilai ini menyebabkan satu hal yaitu baik guru dan siswa melupakan bahwanya jenjang sekolah dasar merupakan sarana persiapan menuju baligh. 

Pekerjaan yang paling tak kalah penting adalah memahamkan siswa-siswa untuk menghadapi proses kedewasaan. Tanggung jawab yang akan melekat. Bahkan persiapan menuju baligh ini harus benar-benar dipersiapkan. Pemahaman akan  aurat. Konsep dosa dan kesiapan menuju kedewasaan perlu benar-benar diperhatikan.

 

Guru  SD  penentu masa depan kedewasaan siswa-siswa nya.

sang waktu

sahabat bumi, sejenak saja kita bicara tentang ia yang tak pernah bosan bergerak. ia yang sering meninggalkan kita. Ia yang sering disebut – sebut. ia yang tak bisa diam sejenak.

 

Apa kah kita bisa bersahabat dengannya?

atau ia menjadi musuh bagi kita?

Mungkin saatnya kita berdamai dengannya.

dengan sang waktu.

Di saat pertanyaan ini terlontar ” Berapa lama waktu yang kamu miliki semenjak hidup?”

Jika sahabat menjawab lebih banyak dari 22 tahun apa yang sahabat rasakan? persahabatan seperti apa yang sahabat lakukan dengannya? Akur kah? pernah kah sahabat ditinggalkannya? Atau seringkah sahabat melupakannya?

Jika sahabat menjawab kurang dari 22 tahun apa yang sahabat rasakan? sudah benar2 memahaminya kah?? jawablah semua itu dengan penuh kebanggan.

Aku tidak tau kapan Sang Pemilik Waktu mengambilnya dari ku, hanya saja sebelum itu terjadi, kukatakan, wahai sang waktu, aku siap menjadi sahabat terbaik mu. bagaimana dengan mu?? 🙂
#terimakasih sahabat

 

Peduli

Apa yang kamu rasakan?
saat kau memahami lebih dalam makna sebuah diksi yang memiliki sejuta syarat akan makna. Proses yang panjang dengan dimulai dari mengenal huruf, mengejanya menjadi suku kata, dan ketika terbaca dengan jelas akan terus berlanjut pada proses selanjutnya dari memahami makna kata itu sampai memadukannya dengan kata yang lain.

Apa yang kamu rasakan?
Bilamana sebongkah daging dalam diri manusia  teriris – iris oleh diksi yang tajam. Diksi yang keluar dari perkataan mampu membuat pipi dan mata basah, dengan suara tergugu dan kaki yang tak mampu bergerak

 

Kata itu memang mujarab. Mampu mengobati segala rasa yang tidak jelas mengusik kalbu. Kata yang terucab melahirkan tindakan dan meninggalkan kesan yang mendalam.

P – e – d – u – l – i

Sebuah kata yang lahir dengan memberikan hikmah. Mampu menggoyahkan keegoan diri yang menjadikan ciri perbedaan dengan Malaikat. Kata yang lahir dari kata yang lain yang sering digunakan semua manusia mengekspresikan kebahagiaanya. Peduli terlahir dari kata cinta

 

jika di dunia ini tidak pernah melahirkan kata peduli, bagaimana setiap insan saling mengenal, membagi rasa, senyum dan cinta. Jika setiap insan sudah tidak memiliki rasa kata ini bagaimana setiap insan saling memadu dengan sesamanya dan alamnya.

Kita belajar dengan para pendahulu kita. Bagaimana Rosulullah tetap peduli dengan orang – orang yang selalu menyakitinya dan di detik – detik terakhirnya pun yang diucapkan adalah manusia muslim yang sangat dipedulikannya. 

Kata itu lahir untuk menjadi bukti manusianya manusia.

 

 

Pemahaman dan Pengertian Cinta Yang Baru dengan Sejarah

Manusia merupakan ciptaan Allah. Sehingga studi mengenai sejarah umat manusia, sejak dari penciptaaannya sampai sekarang, dan yang akan datang harus lah menggunakan dan memperhatikan metode yang ditetapkan Allah. Sejarah yang merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah akan menempatkan peminat sejarah, guru, dan siswa pada potret yang jelas tentang masyarakat muslim dan masyarakat musyrik. Mereka dapat melihat bagaimana suatu masyarakat muslim secara bertahap mulai menyimpang dari syariat_Nya. Dan tentunya mereka dapat menelusuri kembali langkah – langkah yang secara bertahap dilakukan oleh para da’i untuk mengembalikan umatnya kepada ajaran islam.

 

Pembabakan sejarah manusia, misalnya dalam babakan sejarah kuno, sejarah pertengahan, dan sejarah modern, dengan menyatakan bahwa sejarah kuno merupakan sejarah paganisme, terlepas dari keterlibatan dakwah islam oleh para rosul merupakan pembabakan sejarah yang keliru. Referensi – referensi sejarah, baik mengenai apa yang mereka sebut sebagai sejarah Mesir Fir’aunisme, Sejarah Irak Kuno, Sejarah Iran Kuno, Sejarah Arab Pra Islam, Sejarah Syam Kuno, dan Sejarah Eropa kuno tentunya Yunani dan Romawi merupakan referensi sejarah yang harus dikoreksi dan diluruskan kembali. Sejarah berbagai belahan bumi itu merupakan bagian dari sejarah umat islam, yang tentunya tak lepas dari adanya manusia yang berpegang kepada aqidah islam dan manusia yang menyimpang dan murtad sebagai hasutan syaitan.

 

Dengan demikian, sejarah Mesir tidak boleh terlepas dari risalah Nabi Yusuf dan Musa kepada penduduk Mesir. Sejarah Irak tidak boleh terlepas dari sejarah Nabi Hud, Shaleh, Syu’aib, Ibrahim, Isma’il. Mempelajari sejarah negeri Syam tidak boleh terlepas dari sejarah Nabi Ibrahim, Luth, Ishaq, Ya’qub, Dawud, Sulaiman dan Isa. Belajar sejarah umat manusia dengan memisahkan dari sejarah dakwah islam oleh para rosul dan pengikutnya akan mengakibatkan pemisahan sejarah dari islam, pemisahan din dari ilmu, pemisahan din dari kehidupan.

 

Studi sejarah manusia dengan memperhatikan sejarah dakwah Islam , memungkinkan kita mengetahui gambaran umat muslim di setiap zaman dan tempat, sehingga diketahui bahwa hakekat pertentangan antara haq dan batil sepanjang masa. Dan mengetahui peran umat Islam sejak masa silam, pada saat sekarang, dan yang akan datang. Dan perputaran roda sejarah itu tidak mengubah tema pokok sejarah manusia.  Adanya masyarakat muslim dan masyarakat jahiliah. Sebagai umat muslim dituntut untuk mengajak mereka masuk ke dalam dinul Islam melalui berbagai wasilah dakwah.

 

 

Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (sejarah) untuk hari esok. (Qs. Al-Hasyr : 18)

 

Sejarah merupakan cabang ilmu yang sangat dikuasai pemimpin dunia Islam. Kita melihat bahwasanya Sultan Mehmed ( Muhammad Al Fatih) bisa memenangkan Konstantinopel dikarenakan salah satunya Beliau menyukai cabang imu sejarah. Sejarah menyediakan keapada Muhammad Al Fatih informasi – informasi yang dibutuhkan untuk mengetahui kebudayaan militer Byzantium, strategi taktik perangnya, sebab – sebab kegagalan untuk mencegah terulangnya hal yang sama.

 

Ide memindahkan 72 kapal dari selat Bospharus menuju Teluk Tanduk Emas merupakan pengembangan dari apa yang pernah dilakukan Sholahuddin Al-Ayyubi ketika memindahkan kapal dayung dari Fustat menuju laut Merah pada abad ke 12. Semua ini tidak mungkin tanpa pengetahuan mendalam beliau terhadap sejarah.

 

Sejarah tidak menjadi masa lalu yang hanya berfungsi sebagai nostalgia dan romantisme tanpa arah.Namun jadi perhitungan dan perencanaan untuk menentukan keputusan di masa depan. 

 

Belajar dari QS Al- Alaq 1-5 bahwasanya baca tulis adalah kunci ilmu. Kita diminta membaca. Mempertajam penglihatan terhadap masalah. Memperluas cakrawala berpikir terhadap segala urusan. Dan referensi membaca yang baik adalah membaca sejarah. 

 

 

^_^

 

Referensi>> Sejarah islam Dicemari Zionis dan Orientalis,Muhammad Al Fatih 1453

 

Namanya Hendra Diana Pungki

Banyak yang akan kamu pelajari dari kehidupan. Alam, orang – orang yang kamu temui, dan pengalaman bisa menjadi guru yang baik untuk mengajari kita arti cinta, mencintai, dan dicintai.
Sejauh mana dirimu menghargai orang lain, maka sejauh itu kamu juga akan dihargai. Ini bukan berkaitan dengan harta, posisi dan jabatan.Semua itu sangat sederhana. Karena pada hakekatnya semua indra yang Sang Pencipta titipkan kepada kita adalah digunakan untuk mengingatNya dan tentu beribadah PadaNya.

 

Saya bukan orang paham betul akan ilmu sosial yang kemudian membuat saya peka dengan sekitar. Entah itu orang – orang baik atau orang – orang yang ada niatan tidak baik. Bagi saya semua itu begitu sama. Mereka senyum, bertanya ramah dan terlihat ingin membantu ketika saya memutuskan duduk di terminal menunggu adek dari Jakenan.
Sudah tak berhitung berapa orang yang sudah memberikan senyum padaku di Terminal Seloka Pati. Dan banyak pula yang menawarkan ojek, angkot, bis, becak kepadaku. Namun tak bosan – bosan aku menjawab, menunggu teman pak. Sampai pada seorang laki – laki duduk disampingku. Usianya sekitar 5 tahun di atasku. Memakai kaos hitam dan celana sedengkul dan dengan  gaya lapangan membuatku berpikir ini pasti kernet lagi yang memintaku naik di salah satu bis nya. Tapi dia berbeda. Dia tidak menyuguhkan senyum seperti lainnya. Hanya pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku.
“Sediluk ngkas Poso yo mbk??Poso ne dino opo mbk?” tanya si dia
(sebentar lagi puasa ya mbk? Puasanya hari apa?)
” nggeh mas, 4-5 hari lagi.” jawabku
Dia bertanya lagi,
” jaksa mana mbk? jaksa mana?” Tanya nya sambil menunjuk kearah barat?
Aku berpikir cukup lama. Dalam hati aku menjawab, jaksa pa maksudnya, kantor kejaksaan kah?? kenapa tanya – tanya kantor kejaksaan. Akhirnya jawaban ku hanya lah kepala mengangguk dan nyengir.
Dia tanya lagi asalku mana. ku jawab wedarijaksa. Dan dia menunjuk arah utara dengan senyujm lebar. Aku pun mengangguk lagi.
Mbak, jaksa – jaksa, sekolah – sekolah mana??dia bertanya lagi dengan belepotan
Ouw sekolah, di Solo mas. uns.” jawabku
dia senyum, dan mengangguk – angguk terus pergi.
Jam hp menunjukkan pukul 8.45. Sudah 40 menit aku menunggu. Tiba – tiba ada 4 orang yang datang mengerubungiku. 
Mbk, dijak ngumung apa?tanya salah satu bapak
ha?” hanya itu jawab ku. Aku masih bingung.
Mbk, mas mau wong stress lho.” jawab bapak satunya lagi
Ha?”dan ternyata suara itu lagi yang keluar. Aku tambah bingung
Mas e ra inget mangan, mandi, ra ngerti omah e mendi. Biasane nek mangan dijak pak bos. Akeh wong stress ning kene mbk. Podo mari nek suwe – suwe ngumpul ning kene. Ketemu wong – wong kaya kita. Ngumung terus dadine kehibur.” kata bapak tukang becak dengan senyum lebarnya.
Dan akhirnya aku pun tersenyum dan terus mendengarkan cerita bapaknya beberapa orang yang pernah stress dan tinggal di terminal. Bapak nya pun menceritakan anaknya yang baru lulus kuliah dari UNS satu tahun yang lalu, dan sekarang ngajar SD di puri ketika tahu aku kuliah di UNS juga. 
Mas tadi datang lagi dan duduk disampingku.
Akhirnya kuberanikan diri menoleh, dan tersenyum padanya. Ku tanyakan rumahnya mana mas?
angkruk, ” jawabnya sambil nyengir dan nunjuk angkruk di ujung terminal
aku pun senyum lagi, lebih pas nyengir juga. Namanya siapa mas?
Dia menjawab: ” hendra. Hendra Diana Pungki
ouw,,,Rumahnya? tanyaku lagi
gunung Watu/” jawabnya
Ah, aku belum mendengar nama daerah itu sebelumnya. Aku hanya menganggug – angguk.
orang yang lewat di depanku  pasti menatapku dan telunjuknya ditaruh di batuh mengisyaratkan. Ini orang miring mbk, stress.
Toh aku tetap tidak memperdulikannya. Kami tetap bisa ngobrol dalam canda tawa. Sampai dia cerita tentang ibunya yang meninggalkannya. dia putus sekolah waktu SD. Sekarang umurnya 24 tahun.
Obrolan kami terhenti ketika adekku sudah datang. Aku pun berdiri, pamit, dan mengucapkan salam sama mas Hendra.
Sepanjang jalan menuju Solo ku ceritakan obrolan ku tadi sama adekku.
Waktu aku mencerutakan namanya. Adekku mengulang pertanyaan lagi. Dan aku jawab 
HENDRA DIANA PUNGKI.
mbak, mbak diana pungki kan nama artis. Aku pun tertawa pada akhirnya karena baru menyadarinya.

# di terminal kamu akan menemukan banyak orang yang akan mengajarimu arti persahabatan. saling menjaga, menghargai.bagaimana memperlakukan manusia dengan baik, Bahkan dengan orang gila sekalipun.

Bapak yang Romantis

Aku belum menemukan makna romantis yang definitif. Namun diksi ini begitu kental dengan figur yang ada di cerita perjalanan yang aku alami ini.

Bis safari melaju pelan. Jalan Ungaran memang cukup macet. Kepalaku sudah mulai pusing padahal baru 10 menit berdiri dari Sukun. Untunglah ada bapak yang turun dan kursinya bisa saya pakai. Awalnya agak sangsi bersebelahan dengan mas – mas, namun dibandingkan harus berdiri aku memilih duduk. Toh mas nya juga lagi tidur. Perjalanan yang terasa lama. Kusandarkan badanku kedepan kursi di depanku. Bisa dibilang ini pertolongan pertama bagi orang yang mual dalam bis. Tiba – tiba aku dikejutkan dengan anak kecil yang jatuh disampingku. Spontan aku berdiri. Aku meminta dia duduk di kursiku. Ah, anak ini terlalu cakep. Rambutnya rapi tersisir. Bajunya dimasukkan. Dia bersepatu. Senyumnya bikin meleleh. Gigi kelinci nya ditunjukkan padaku.  Senyum yang tulus seorang anak laki – laki 4 tahun. Dibelakangnya ternyata ada bapaknya. Bapak nya pun tak kalah rapi. Wajah bersahabat dan tentunya senyum yang tidak dipaksakan. Aku pun membalas senyum dan anggukan sopan.

Aku berharap terminal Bawen segera di depan mata. Dengan itu aku bisa duduk kembali. Keringat dingin sudah mulai keluar. Ah tidak cantik sekali kalau mabuk disini. Aku semakin gelisah.Ternyata mas yang duduk disebelah adeknya terbangun dan berdiri. Sepertinya mau turun. Alhamdulillah. Selanjutnya kuposisikan badanku menjorok kedepan. Ini lebih baik. Kulirik adek disamping kanan ku. Dia memegang perutnya. Mungkin juga mual. Tapi lambat laun dia tertidur. Pose tidur yang lucu. Dalam tidur dia lebih cakep. Saat badannya mulai mengayun – ngayun ke kanan. Tanganku spontan mau memegang, tapi kalah cepat bapaknya yang sudah menangkap lebih dulu. Ah bapaknya ternyata terus memperhatikan si cakep. Aku lega dan kembali memposisikan duduk senyaman mungkin. Kucoba menutup mata dan terbangun oleh suara kernet bus yang bertanya,
” Pak, ini anaknya? Kalau bapak berdiri bayarnya double. Bayar satu kalau bapak yang duduk, anak berdiri,” kata kernet
Aku pun kaget. Ya tidak mungkin ada bapak yang tega membiarkan anaknya berdiri sedangkan dia duduk.
“terus gimana pak?” tanya sang bapak.
” dipangku pak, ini rame,” kata kernet
oh ya kuperhatikan bertambah orang yang berdiri berjejer melihat gerimis di kaca jendela. Bapak tersebut kemudian duduk disebelahku. Aku mulai membuka percakapan. Mau turun dimana dan anaknya kelas berapa. Si cakep tidak menjawab meskipun sang bapak bertanya balik pada sang anak. Si cakep hanya nyengir. Dan bapaknya tertawa ringan dan menjawab kalau anaknya mau masuk sekolah.
Selanjutnya aku mulai menutup mata setelah si cakep juga tertidur.

Aku terbangun mendengar celotehan  si cakep dan bapak nya yang tertawa renyah menimpali celotehannya. Ku tengok kaca sebelah. Ternyata sampai Boyolali. Kepala ku masih pusing. Kusandarkan lagi badanku. Si cakep asyik berbicara dan bapaknya antusias mendengar. Terkadang mereka tertawa bersama. Aku tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan. Pikiranku malah tertuju novel Tere Liye yang baru selesai aku baca. “Ayah ku bukan Pembohong.” Novel sederhana yang mengisahkan tentang bapak yang suka bercerita. Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa aku menangis terharu membaca novel itu. Hanya saja menurutku figur bapak yang diceritakan dalam novel itu romantis dengan cara dan tindakannya sehari – hari. Bapak disampingku ini juga romantis. Batinku. Dengan gaya dan perhatian yang berbeda. Aku mulai tertarik mendengarkan apa yang mereka bicarakan saat sang bapak menunjuk – nunjuk kaca jendela. 
” Warna putih  itu, apa – apa?” tanya sang bapak.
” sa–am—su,” jawab si cakep.
Bus terlanjur melaju cepat. Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata papan reklame yang bertuliskan Samsung dibaca si cakep.
” lagi – lagi nak, yang itu  yang itu. Ayo,” kata bapak lagi.

” h-i hi, n-o no, hino,”jawab si cakep
“pinter, tu lagi, baca lagi ” kata bapak sambil tertawa renyah.

Aku baru mengerti kalau bapak ini sedang mengajari si cakep membaca. Mereka tertawa bersama – sama ketika bisa membaca papan reklame yang terpajang disepanjang jalan. Kalau pun si cakep tidak bisa membaca, maka bapak tersebut yang mengejakan. Aku tersenyum dan pikiranku menerawang pada laki – laki paruh baya yang ada di kota lain.

” Romantis itu sederhana. Saat seorang bapak mengajari anak  lelakinya membaca itu sederhana. Bapak selalu punya cara romantis melakukannya.”

Terlalu Sederhana untuk Mengakuinya

Suatu keniscayaan ketika setiap dari insan ingin mendapatkan kebahagiaan. Mencapai tujuan hidup yang sudah terencana sejak awal. Namun yang menjadi pertanyaan adalah kebahagiaan apa yang diinginkan. Terlalu obsesi akan keinginan namun melupakan proses yang baik  untuk mendapatkannya hanya akan menjadikan insan yang lupa dengan aturan ataupun pagar – pagar kehidupan yang sudah ada di sekitarnya. Melupakan hak – hak yang lain dengan berbagai pembenaran – pembernaran yang dipaksakan.

Proses yang panjang dan mengakar tajam yang dibutuhkan. Proses yang melahirkan idealisme yang kokoh, profesionalitas yang teruji dan juga integritas yang tak tertelan masa.
Kita terlalu sederhana untuk mengakuinya ketika ditanyakan berapa usia kita dan apa yang kita banggakan akan setiap detik yang sudah kita lewati untuk alam. Benar – benar terlalu sederhana. Kita bukan binatang ternak, kita insan yang memiliki ruh, hati, dan tentunya akal. Waktu akan semakin merapat dengan insan – insan yang bersahabat dengannya.